Segala Puji wahai yang membentangkan alam ini tanpa tiang yang menopang, Segala Puji wahai yang mengatur kehidupan seluruh alam, Segala Puji wahai yang menggenggam kehidupan dan kematian, Segala Puji wahai yang memiliki kenikmatan dan kesedihan, Segala Puji wahai yang berkuasa dari segala kekuasaan, Segala Puji wahai yang tiada berawal dan tiada berakhir, Segala Puji wahai yang menghidupkan mahluk terindah dari yang terindah, Segala Puji wahai yang mengizinkan kami hidup didunia ini, Segala Puji wahai Alloh SWT.


Salam Sejahtera wahai yang memimpin manusia didunia dan diakhirat, Salam Sejahtera wahai yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, Salam Sejahtera wahai yang menjadi petunjuk bagi seluruh mahluk diseluruh alam, Salam Sejahtera wahai yang memiliki syafa’at, Salam Sejahtera wahai mahluk yang paling lembut budi pekertinya serta tutur bahasanya, Salam Sejahtera wahai mahluk yang paling indah dari yang terindah, Salam Sejahtera wahai yang mengajarkan Qur’an dan Sunnah, Salam Sejahtera wahai yang memiliki nama Assulthon, Salam Sejahtera wahai Muhammad SAW.


Salam Sejahtera wahai yang telah membimbing kami dalam mengenali akan Samudera Ilmu yang tidak akan pernah ada batasnya, Salam Sejahtera wahai Guru Mulia kami Habib Umar Bin Hafidh, Habib Munzir Bin Fuad Al Musawa, Habib Hasan Bin Ja’far Assegaf, Habib Muhammad Syahab, Habib ALwi Bin Abdurahman Assegaf, Habib Syafiq bin Syekh Abu Bakar bin Salim, dan Para Habaib Lainnya.


Salam Sejahtera untuk kawan-kawan kami di facebook, friendster, blogger, para teknisi ponsel yang berada di semua forum reparasi ponsel, para teknisi computer dan para web master dan para pelaku bisnis lainnya serta tidak tertinggal rekan-rekan kami di seluruh pondok pesantren yang ada di Indonesia.

Wanita Mulia atau Celaka ???

Posted by Diposkan oleh IBNU MAJELIS

1. setiap muslim dan muslimah mempunyai derajat iman yg berbeda beda, semakin rendah imannya maka semakin jauh ia dari mematuhi syariah, namun bisa saja seseorang mempunyai keimanan yg tinggi namun ia terjebak dg ujian berat pula hingga sulit baginya untuk mengamalkan hukum syariah.
maka kita tidak bisa menghukumi wanita itu jahat misalnya, karena memang itulah kadar keimanannya, dan ia masih mempunyai iman untuk memakai jilbab dan menjaga rambutnya untuk tidak terlihat oleh masyarakat, namun ketika sampai di kantornya ia membukanya karena barangkali majikannya tak suka dg jilbab, maka itulah batas keimananya, untuk saudari kita yg seperti ini layaknya dihimbau dg lembut oleh teman2nya untuk diajak ke majelis2 taklim atau pergaulan muslimah yg telah berjilbab rapi, niscaya ia akan terbawa untuk tdk lagi menggunakan pakaian ketat dan jilbab ringkas, apalagi membukanya ditempat kerja, atau paling tidak ia merasa bahwa perbuatannya itu masih perlu diperbaiki lebih lagi.

2. perbuatannya tidak menjadikan hasil pekerjaannya menjadi penghasilan yg haram, terkecuali bila tempat ia bekerja melarang memakai jilbab. kiasnya sama seperti orang yg bekerja disuatu perusahaan lalu tidak melakukan shalat, maka nafkahnya tetap tidak menjadi haram kecuali bila perusahaan itu melarang ia shalat atau membuat ia terlalu sibuk hingga tak bisa shalat.
namun perbuatannya dg membuka jilbab ditempat pekerjaannya adalah dosa antara dirinya dengan Allah swt tanpa mempengaruhi hukum nafkahnya kecuali bila tempat pekerjaannnya melarangnya.

banyak sekali saudara saudara kita muslimin dan muslimat yg masih mementingkan nafkahnya daripada agamanya, bisa dimaklumi bila kebutuhan nafkahnya adalah kebutuhan primer, namun yg menyedihkan adalah bila mreeka meninggalkan syariah hanya demi nafkah sekunder atau tersier, hanya demi bermewah mewahan, dan untuk itu mereka menukarnya dg Keridhoan Allah swt,

namun kita masih bersyukur karena mereka masih dalam Iman dan islam, tidak mengakui ada tuhan lain selain Allah, dan tetap mengakui Nabi Muhammad saw utusan Allah, tanggungjawab kita untuk menolong mereka

3. tentunya wanita muslim lebih mulia dari wanita non muslim, wanita yg sering buka tutup jilbab masih lebih baik daripada yg tak mau sama sekali menyentuh jilbab, sebagaiman pria yg yg sesekali shalat subuh pada waktunya dg pria yg sama sekali tak mau shalat subuh, jauh berbeda.


4. sabda Nabi saw : "sungguh setiap amal tergantung pad niatnya, dan seseorang dibalas dg kadar apa apa yg ia niatkan" (shahih Bukhari).
kalau niatnya bukan Lillah, maka ia tak mendapatkan pahala apa apa, maka dimata Allah orang yg tak berjilbab karena belum mampu, misalnya dilarang orang tuanya atau larangan larangan lainnya, jauh lebih mulia daripada disisi Allah daripada wanita yg menggunakan jilbab bukan karena Allah.
kita berharap wanita yg sudah berjilbab ini dan belum berniat mulia semofa dalam suatu kejap Allah berpijar padanya dg sebutir cahaya hidayah hingga berubahlah niatnya menjadi karena Allah swt.

dan kita berharap agar mereka yg tertindas keadaannya hingga belum bisa memakai jilbab agar dibangkitkan dari kelemahan dan disingkirkan dari rintangannya dan diberi kekuatan Iman.

sebab keduanya memiliki kelemahan iman, semoga Allah menguatkan iman kita pula, amiin

1. Hijab secara bahasa : adalah penutup/ penghalang/ pembatas
Secara Syari?ah : penutup aurat berupa kain atau benda apapun yg menghalangi terlihatnya warna kulit (tidak transparan seperti plastik, kaca dlsb) bagi pria menurut Madzhab Syafi?I adalah antara Lutut dan pusar, bagi budak adalah dua kemaluannya,

dan bagi wanita adalah seluruh tubuhnya dalam madzhab syafi?I., dan pendapat lain mengatakan seluruh tubuhnya kecuali wajah. Dan bagi kita untuk sedikit demi sedikit merangkak pada syari?ah, kalau ia wanita yg biasa membuka auratnya, maka baiknya ia memulai dengan menggunakan pakaian panjang, atau celana panjang, lalu mulai mengenakan jilbab ringkas, lalu berjalan waktu dengan kemuliaan yg ada pd Imannya untuk menggunakan jilbab yg lebih menutup seluruh rambut dan lehernya, lalu kemudian ia meningkat kpd hal yg lebih mulia, yaitu meninggalkan pakaian2 ketatnya menuju kepada kesempurnaan puncak, yaitu sempurnanya Syariah atas mereka, yaitu menutup seluruh tubuhnya dan menggunakan pakaian yg longgar

Ada hadits, bahwa Rasul saw bertanya pada para sahabat, : ?wanita manakah yg paling sempurna??. Maka semua sahabat terdiam, dan saat itu diantara mereka adalah Sayyidina Ali kw, yg kemudian bertanya pd Istrinya (Fathimah Puteri Rasul saw), maka Fathimah Azzahra Radhiyallah ?anha (beliau digelari Sayyidatunnisa?il?alamin : pemimpin wanita seluruh alam) menjawab : ?wanita yg tak melihat lelaki dan tak terlihat oleh kaum lelaki?. Maka ketika ucapan ini disampaikan pd Rasul saw maka Rasul saw berkata : ?tepat..!?.

Dalil atas hijab ini sudah jelas dalam Alqur?an pun dijelaskan dengan jelas, pada surat Annuur ayat 31 : ?KATAKANLAH PADA WANITA WANITA BERIMAN (mukminat : orang beriman dari kaum wanita) AGAR MENUNDUKKAN PANDANGANNYA DARI MELIHAT KAUM LELAKI DAN MENJAGA KEMALUANNYA DARI HAL YG DIHARAMKAN, DAN JANGAN PULA MEMPERLIHATKAN PERHIASANNYA (kalung dlsb), KECUALI YG TERLIHAT DIPAKAIANNYA, DAN AGAR MENUTUPKAN CADARNYA DIATAS WAJAHNYA DAN DADA SERTA LEHERNYA, DAN JANGANLAH MEMPERLIHATKAN PERHIASANNYA (dan membuka jilbabnya) KECUALI PADA SUAMINYA, ATAU AYAH MEREKA, ATAU AYAH DARI SUAMI MEREKA (mertua), ATAU ANAK LELAKI MEREKA (anak kandung atau anak suson), ATAU ANAK SUAMI MEREKA (anak tiri mereka), ATAU SAUDARA SAUDARA MEREKA (adik/kakak secara keturunan dan suson), ATAU ANAK SAUDARA MEREKA (keponakan), ATAU WANITA LAINNYA (wanita muslimah lainnya, dan aurat harus tertutup pula bila berhadapan dg wanita non muslim), ATAU BUDAK WANITA MEREKA?..hingga akhir ayat? (Annur 31).
(rujuk Tafsir Ibn Abbas surat Annuur)

Namun pendapat yg kedua berpendapat bahwa hal ini (menutup seluruh tubuh dengan serapat2nya hingga tak terlihat oleh kaum lelaki) adalah hanya pd istri istri Rasul saw, namun pendapat pertama yg lebih Arjah (lebih kuat), demikian dalam madzhab syafi'i, namun ada perbedaan pd madzhab yg lain, wallahu a'lam

ada pula keringanan bagi wanita yg bekerja, untuk membuka wajahnya, demikian dalam kitab Syarh Baijuri Syarh Abi Syuja' alaa Madzhab Syafi;i, bab Ahkam Shalat.Maka jelaslah sudah bahwa kesimpulannya puncak kehormatan wanita adalah menutupi dirinya hingga tak terlihat oleh kaum lelaki. (wanita yg berjilbab dan berpakaian agak ketat, masih akan terlihat lekukan dan bagian tubuh yg menonjol di bagian dada dan belakangnya). Inilah puncak kesempurnaan wanita.

dan masih banyak lagi dari hal hal yg diperintahkan Allah yg mungkin belum mampu kita jalankan secara keseluruhan, seperti membicarakan aib orang lain misalnya, merupakan dosa besar, demikian pula mengumpat dll, namun ini semua tak akan kita mampu menghindarinya kecuali dg Tadriij (bertingkat tingkat dan selangkah demi selangkah). Dan setiap usaha untuk mencapai suatu perintah Allah, merupakan pahala, sebagaimana saya jelaskan diatas, maka wanita yg menyadari bahwa menutup seluruh tubuhnya adalah wajib, lalu ia mulai berusaha menutup auratnya sedikit demi sedikit, maka saat saat waktu berjalan itu ia tertulis sebagai wanita yg menuju kesempurnaan, contoh :
Dua orang wanita sama sama mengenakan pakaian ketat, kita sebutlah rani dan rena.
Rena memang sejak dewasa sudah asyik dg celana ketat, dan tak pernah perduli dg perintah Allah swt walaupun ia seorang muslim,
namun Rani pada awalnya adalah wanita yg suka memakai celana pendek didepan umum, namun ia kemudian mengetahui bahwa setiap wanita harus menutup auratnya, rani pun menyesali dosanya, ia membatin?? aduh.. aku belum mampu tuh kalau harus pakai tutupan lengkap.., tapi kalau aku gini ya aku dosa.. ah.. biar deh.. aku akan coba perlahan lahan, supaya ngga nyolok juga, dan aku bercita cita akan sampai pada kesempurnaan kaum wanita dan kehormatan tertinggi..?. maka ia membeli celana ketat untuk menggantikan celana pendeknya.. dan ia sudah melirik lirik jilbab ketat yg akan ia gunakan dalam waktu dekat, dan ia telah memesan pakaian daster longgar dengan warna yg indah walau ia masih ragu kapan akan mampu menggunakannya.
Wah? alangkah tingginya derajat Rani diatas Rena, bukankah sama sama menggunakan pakaian ketat?, yah.., namun sanubari yg menyimpan Niat mulia, berbeda dengan sanubari yg kosong dari Niat Mulia, sebagaimana Berlian dan Batu kali, sama sama berasal dari bebatuan dan namanya pun tetap batu, namun? jauh berbeda kehormatannya di mata orang, lalu bagaimana kalau kehormatannya jauh berbeda bukan dimata orang, tapi dimata Allah..?

Wanita menggunakan hijab karena menjalankan perintah yg Maha Menciptakannya dari ketiadaan, sebagaimana lelakipun diperintahkan menutupi auratnya, sebagaimana kita mematuhi aturan rt, rw, aturan lalu lintas, sabuk pengaman, helm dlsb, mungkin kita akan melanggar bila kita yakin akan bisa terhindar dari denda atau hukuman,
namun kita akan patuh dengan santai menggunakan helm dan atau sabuk pengaman atau mematuhi aturan lalu lintas, bila dengan setiap kepatuhan itu kita dibayar dengan kwitansi mendapatkan sebuah Rumah Istana yg Maha Megah dengan segala keindahan dan kemewahannya, dan kita takut pula melanggarnya karena pasti dicengkeram dalam siksaan penjara super kejam ribuan tahun?, bukankah demikian?, ya.. demikianlah orang orang yg berakal.
Dan bagaimana mereka yg menolaknya?, bukankah mereka orang yg merugi?,
Ya? mereka orang orang yg merugi.
Namun diatas itu semua, Allah tak akan memaksa lebih dari kemampuan kita, maka janganlah gusar dengan perintahnya, karena gusar dan penentangan akan membuka gerbang kemarahan Nya semakin membesar, namun tunduk dan pasreah lah pada Nya, mengadulah bahwa kita masih sangat lemah untuk mengamalkan beberapa perintahnya, wahai penduduk Bumi, jauh berbeda antara orang yg ketika diperintah Raja, lalu ia mengatakan pada Raja : ?aku tak mau..!!, aku menolak dan benci..!?, atau orang yg berkata pd Rajanya : ?maafkan kelemahanku.., aku tak mampu..kasihanilah kelemahanku..?.